Puasa Lelono, Tirakat Jawa Yang Harus Di Lakukan Dengan Berjalan

Puasa Lelono merupakan tapa yang sudah sangat jarang dilakukan oleh orang, tapi bilapun ada yang melakukannya sudah bisa dipastikan bahwa orang tersebut berada di sekitar pedesaan atau daerah terpencil. Bila hidup di lingkungan perkotaan yang ramai, maka tapa ini sangat sulit untuk dilakukan.

puasa lelono tirakat kejawen harus jalan kaki

Puasa Lelono sendiri mengartikan “Lelono (Jawa) artinya: Kelana (Berkelana)”, jadi orang yang menjalani puasa lelono ini ia harus terus berjalan sampai batas waktu syarat tirakat yang ia jalani selesai. Lamanya puasa lelono bisa dengan hitungan jam saja, tapi ada juga yang hitungan hari, minggu dan bulan, tergantung berat atau ringan dari sebuah hajat yang akan ditempuh oleh yang menjalaninya.

Dari beberapa sumber, puasa lelono bisa di samakan dengan lelaku topong rame. Sebuah tirakat yang harus ditempuh dengan berjalan kaki, bukan hanya berkelana (lelono) mereka yang menjalani puasa ini, harus sambil menyebar kebaikan dan membela yang lemah, berjalan tanpa nama, asal usul dan juga kedudukan.

Mereka harus menjadi diri sendiri, tanpa harta dan kedudukan, tanpa martabat dan pangkat.

Jadi sekalipun puasa lelono ini memperbolehkan untuk makan dan minum, bukan berarti mudah untuk di jalani, sekalipun hanya diminta untuk berjalan saja.

Dalam tempuhan jalan yang di ambil oleh mereka, bukanlah mudah dan hanya sebatas itu saja tapi lebih jauh lagi dari perkiraan yang Anda bayangkan, bahkan lebih berat dari itu semua.

Tujuan Puasa Lelono

Lebih dalam kepada jati diri seseorang, dimana mereka yang menjalaninya harus benar-benar bisa menjadi lebih rendah diri dan penyabar supaya apa yang menjadi tujuanya bisa berhasil.

Tujuan sebenarnya adalah menyebarkan ilmu kebaikan yang sudah ia pelajari sebelumnya, bukan hanya kepada manusia tapi kepada makhluk halus (Jin) dan juga hewan. Ia akan dituntut untuk mempelajari dirinya sendiri tentang ketuhanan, kebesaran ciptaan sang kuasa tentang alam semesta yang bisa membuat orang yang menjalani puasa lelono itu lemas dengan sendirinya.

Bukan lemas karena kepacekan, tapi batinnya akan merasakan kehampaan, lemah tak berdaya menghadapi besarnya kekuasaan dari sang pecipta, dari sini jugalah orang yang menjalani puasa lelono harus tau siapa dirinya yang tidak sebanding dengan sang pecipta sebbagai contohnya:

  • Bila ia penguasa maka ia akan menyadari bahwa kekuasaannya tidak ada apa-apanya dibandingkan kekuasaan sang pecipta kepada semua makhluk yang ada di muka bumi ini.
  • Bila ia pejabat maka jabatan yang ia emban itu tidak ada apa-apanya dengan jabatannya di luar daerahnya.
  • Bila ia orang yang kuat maka kekuatannya itu belum ada seberapa dibandingkan sang pecipta.
Baca Juga:  Puasa Sunah dan Wajib, Begini Tata Caranya

Jadi pada intinya, semua yang ia miliki itu tidak ada apa-apanya sama sekali saat ia menjalani puasa lelono.

Makna Dalam Puasa Lelono

Lebih kepada kehidupan yang membuat seseorang menjadi pribadi yang lebih baik lagi, karena pada dasarnya inti dari Lelono melihat keadaan alam diluar sana yang lebih dari dirinya, atau bahkan lebih kurang dari apa yang ia miliki.


Jadi lengkap sudah, bahwa makna dari orang yang menjalaninya itu lebih kepada pribadinya supaya menjadi orang yang rendah diri, adil dan bijaksana. Karena itulah suatu tuntutan saat seseorang menjalani puasa lelono.

Tanpa menjalninya kemungkinan seseorang akan menjadi besar hati, congkak dan sombong karena belum pernah melihat keadaan di luar sana. Bila ia sudah menjalaninya, maka lengkaplah sudah akan apa yang ia pelajari selama ini yang di tutup dengan sebuah lelaku tirakat yang disebut dengan puasa lelono.

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close